RILIS RESMI EWRC INDONESIA Harga Emas Antam Naik Tajam, Investor Diimbau Fokus Jangka Panjang.
Eko Wiratno Research and Consulting(EWRC) Indonesia mencermati kenaikan signifikan harga emas batangan bersertifikat produksi Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada Senin (19/1/2026). Harga emas tercatat naik Rp 40.000 per gram dari sebelumnya Rp 2.663.000 menjadi Rp 2.703.000 per gram.
Sementara itu, harga buyback atau harga beli kembali emas oleh Antam juga mengalami kenaikan Rp 36.000 per gram, dari Rp 2.509.000 menjadi Rp 2.545.000 per gram. Dengan demikian, selisih harga beli dan harga buyback (spread) mencapai Rp 158.000 per gram.
Analis EWRC Indonesia, Eko Wiratno, menegaskan bahwa kenaikan ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan lonjakan harga emas dunia hingga menembus rekor tertinggi di atas US$ 4.670 per ons.
“Lonjakan harga emas global dipicu meningkatnya permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik internasional, khususnya kebijakan tarif Presiden AS terhadap negara-negara Eropa,” ujar Eko Wiratno.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan tarif impor oleh Amerika Serikat memicu kekhawatiran pasar global sehingga investor berbondong-bondong mengalihkan aset ke emas sebagai instrumen lindung nilai.
Emas Tidak Cocok untuk Trading Harian
EWRC Indonesia mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada euforia kenaikan harga emas untuk aktivitas trading jangka pendek.
“Dengan spread harga yang cukup lebar, emas tidak cocok untuk trading harian. Ini instrumen investasi jangka panjang,” tegas Eko Wiratno.
Menurutnya, investor perlu memahami bahwa selisih harga beli dan harga buyback dapat menyebabkan kerugian jika emas dijual dalam waktu singkat.
Potensi Cuan Investor
Berdasarkan perhitungan EWRC Indonesia, investor yang saat ini memiliki emas sebanyak 1.000 gram berpotensi memperoleh:
-
Cuan tahunan: Rp 922.212.120
-
Cuan bulanan: Rp 76.851.000
-
Cuan harian: Rp 2.526.600
“Angka ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi instrumen investasi yang sangat menjanjikan dalam jangka panjang,” tambahnya.
EWRC Indonesia juga merujuk pada sejumlah teori dan penelitian terkini yang menguatkan posisi emas sebagai aset unggulan:
-
Teori Safe Haven – Baur & Lucey menyebut emas sebagai aset pelindung saat krisis keuangan.
-
Teori Hedging Inflasi – Fisher menjelaskan emas mampu menjaga daya beli saat inflasi meningkat.
-
Teori Portofolio Modern – Markowitz menegaskan emas efektif sebagai diversifikasi investasi.
Selain itu, jurnal internasional terbaru tahun 2023–2025 menyimpulkan bahwa emas terbukti memberikan return positif jangka panjang dan efektif sebagai pelindung nilai saat ketidakpastian ekonomi global meningkat.
Imbauan EWRC Indonesia
EWRC Indonesia mengimbau investor untuk:
-
Berinvestasi emas dengan orientasi jangka panjang
-
Membeli emas saat harga mengalami koreksi
-
Tidak menggunakan emas untuk spekulasi harian
-
Tetap memantau dinamika ekonomi global
“Emas bukan instrumen spekulasi, tetapi tabungan masa depan. Beli saat turun, simpan, dan jual saat tren naik kuat,” pungkas Eko.
Tentang EWRC Indonesia
EWRC Indonesia adalah lembaga riset dan konsultan ekonomi yang fokus pada analisis pasar keuangan, komoditas, dan investasi strategis.
Kontak Media:
EWRC Indonesia
Narasumber: Eko Wiratno
📱 WhatsApp: 081 567 898 354








