[otw_is sidebar=otw-sidebar-4]

Kerja Sebulan di Klaten, Cuma Dapat 0,79 Gram Emas

[otw_is sidebar=otw-sidebar-5]
[otw_is sidebar=otw-sidebar-7]

Data terbaru EWRC Indonesia kembali membuka mata publik. Di tengah slogan kenaikan upah dan janji kesejahteraan pekerja, fakta menunjukkan daya beli UMK Klaten 2026 terhadap emas Antam justru berada pada titik yang memprihatinkan. Dengan UMK sebesar Rp2.538.691 per bulan, sementara harga emas Antam Pegadaian telah menembus Rp3.212.000 per gram, maka satu bulan kerja penuh hanya setara ±0,79 gram emas.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah potret telanjang tentang bagaimana nilai kerja manusia terus tergerus oleh kenaikan harga aset lindung nilai. Ketika emas melesat naik sebagai pelindung kekayaan, upah pekerja justru tertinggal jauh di belakang. Artinya, semakin rajin bekerja, semakin sulit pula pekerja mengejar nilai kekayaan yang stabil.

Ironisnya, emas selalu dianggap “mahal” oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Padahal yang sesungguhnya terjadi bukan emas yang mahal, melainkan daya beli upah yang melemah. Dalam konteks ini, emas tidak naik—yang turun adalah nilai rupiah terhadap aset riil. Fakta bahwa UMK Klaten hanya mampu membeli 0,79 gram emas per bulan menjadi sinyal keras bahwa sistem pengupahan belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan kesejahteraan jangka panjang.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, pekerja akan terjebak dalam lingkaran konsumsi tanpa akumulasi aset. Upah habis untuk kebutuhan harian, sementara peluang membangun perlindungan nilai semakin menjauh. Di sisi lain, mereka yang telah lebih dulu menyimpan emas justru semakin diuntungkan oleh kenaikan harga. Ketimpangan ini akan terus melebar jika literasi keuangan dan kebijakan pengupahan tidak berani berubah.

Rilis EWRC Indonesia ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat pekerja. UMK tidak boleh hanya dihitung berdasarkan kebutuhan minimum hidup, tetapi juga harus mempertimbangkan kemampuan pekerja untuk menabung dan melindungi nilai penghasilannya. Tanpa itu, kenaikan UMK hanyalah ilusi angka di atas kertas.

Emas telah membuktikan dirinya sebagai aset lindung nilai yang konsisten. Pertanyaannya kini sederhana namun menusuk: sampai kapan pekerja hanya menjadi penonton kenaikan harga emas? Apakah UMK akan terus tertinggal, ataukah akan ada keberanian kebijakan untuk mengejar realitas ekonomi yang sesungguhnya?

Satu hal pasti, data ini bukan untuk ditutup-tutupi. Ini adalah cermin keras tentang masa depan daya beli pekerja. Mengabaikannya berarti membiarkan generasi buruh bekerja keras hari ini, namun miskin nilai di masa depan.(**)

[otw_is sidebar=otw-sidebar-6]
author

Author: 

Leave a Reply