[otw_is sidebar=otw-sidebar-4]

Haji Kasdiman Pasar Kartasura Ungkap Rahasia Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Ayam

[otw_is sidebar=otw-sidebar-5]
[otw_is sidebar=otw-sidebar-7]

SUKOHARJO(Jaringan Arwira Media Group)- Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 beberapa waktu lalu, harga daging ayam potong di Pasar Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, terpantau mengalami kenaikan. Pada Sabtu (3/1/2026), harga ayam potong dijual di kisaran Rp41.000 per kilogram. Angka tersebut naik dibandingkan harga normal yang biasanya berada pada rentang Rp34.000–Rp38.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini terjadi seiring meningkatnya permintaan masyarakat pada momentum akhir tahun. Libur panjang Natal dan Tahun Baru, tradisi hajatan keluarga, hingga kebutuhan usaha kuliner mendorong lonjakan konsumsi daging ayam. Di pasar-pasar tradisional, suasana transaksi pun terasa lebih padat dibandingkan hari biasa.

Pantauan di Pasar Kartasura sejak dini hari menunjukkan aktivitas jual beli berlangsung intens. Sejumlah pedagang ayam tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Bahkan, sebagian pedagang mengaku harus membuka lapak lebih awal demi mengimbangi tingginya permintaan.

Salah satu pedagang ayam potong yang merasakan langsung dampak lonjakan permintaan tersebut adalah Haji Kasdiman. Pedagang yang sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Kartasura ini menyebut peningkatan pembelian mulai terasa sejak pertengahan Desember 2025.

“Sejak tanggal 15 Desember itu sudah kelihatan sekali ramainya. Puncaknya menjelang Natal sampai tanggal 2 Januari kemarin. Luar biasa,” ujar Haji Kasdiman saat ditemui di lapaknya, Sabtu dini hari.

Menurut dia, meskipun harga mengalami kenaikan, daya beli masyarakat relatif tidak menurun. Justru, permintaan meningkat tajam karena banyak kegiatan perayaan dan kebutuhan konsumsi rumah tangga. Ia memperkirakan, kondisi pasar yang ramai masih akan berlangsung hingga pertengahan Januari 2026, seiring semangat awal tahun baru.

“Biasanya masih ramai sampai tanggal 15 Januari. Banyak orang punya acara, usaha kuliner juga belum sepi,” katanya.

Lonjakan Permintaan dari Berbagai Daerah

Menariknya, pembeli yang datang ke lapak Haji Kasdiman tidak hanya berasal dari wilayah Kartasura dan sekitarnya. Pelanggan datang dari berbagai daerah, seperti Boyolali, Klaten, hingga Kota Solo. Mayoritas merupakan pelanggan tetap yang menjalankan usaha kuliner.

“Banyak langganan dari warung Padang, bakso, mie ayam, kantin kampus, sampai katering rumahan. Mereka sudah biasa ambil di sini,” ujarnya.

Dalam sehari, sekitar 90 orang pembeli datang silih berganti. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan hari normal. Dengan intensitas transaksi seperti itu, ratusan kilogram ayam segar dapat terjual setiap harinya. Tak jarang pula ada pelanggan yang memesan dalam jumlah besar untuk stok usaha.

“Kalau sedang ramai, kadang sampai tidak sempat duduk. Tapi ya senang, artinya rezeki lancar,” kata Haji Kasdiman sambil tersenyum.

Bagi para pelaku usaha kuliner, ketersediaan bahan baku yang stabil dan kualitas produk menjadi faktor utama. Di tengah fluktuasi harga, pedagang yang mampu menjaga kualitas dan pelayanan cenderung tetap menjadi pilihan pelanggan.

Salah satu pelanggan setia Haji Kasdiman adalah Eko Wiratno, warga Boyolali. Ia mengaku telah bertahun-tahun menjadi langganan dan kerap membeli ayam potong untuk kebutuhan rumah tangga.

“Saya sudah lama ambil ayam di Pak Haji Kasdiman. Ayamnya segar, bersih, dan orangnya jujur,” ujar Eko saat ditemui di rumahnya.

Pada hari yang sama, Eko juga baru saja mengambil daging ayam dari lapak tersebut. Ia bahkan mendapatkan tambahan bonus dari pedagang langganannya itu. “Tadi malah dibonus banyak. Itu yang bikin pelanggan betah,” katanya.

Menurut Eko, pelayanan yang ramah dan konsisten menjadi nilai lebih yang jarang ditemui saat ini. Selain itu, kemudahan layanan antar langsung ke rumah juga menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pelanggan yang memiliki kesibukan tinggi.

“Pelayanan seperti ini sekarang jarang. Bukan cuma jualan, tapi benar-benar melayani,” ujarnya.

Kesuksesan Haji Kasdiman bertahan di tengah ketatnya persaingan pasar bukan datang secara instan. Ia menuturkan, sejak awal berjualan, dirinya berpegang teguh pada dua prinsip utama, yakni disiplin waktu dan kejujuran dalam menimbang dagangan.

Menurut dia, kepercayaan pelanggan dibangun dari hal-hal sederhana namun konsisten. “Kalau menimbang ya harus pas. Jangan main curang. Pembeli itu tahu. Sekali tertipu, pasti tidak kembali lagi,” katanya tegas.

Selain soal kejujuran, disiplin waktu juga menjadi faktor penting. Setiap hari, Haji Kasdiman membuka lapak tepat pukul 00.00 WIB. Meski pada jam tersebut pasar masih tampak lengang, ia tetap konsisten membuka dagangan.

“Kalau buka telat, pelanggan bisa pindah ke tempat lain. Jadi harus disiplin,” ujarnya.

Lambat laun, pelanggan terbiasa datang pada jam-jam dini hari. Pola tersebut membuat arus transaksi lebih tertata dan memudahkan pelanggan usaha kuliner yang membutuhkan pasokan sejak pagi.

Fenomena ramainya Pasar Kartasura menjelang Natal dan Tahun Baru menunjukkan bahwa pasar tradisional masih menjadi tulang punggung distribusi pangan masyarakat. Di tengah gempuran ritel modern, pasar rakyat tetap memiliki daya tarik tersendiri, terutama dalam hal kesegaran produk dan relasi sosial antara pedagang dan pembeli.

Haji Kasdiman menilai, hubungan emosional dengan pelanggan menjadi nilai yang tidak tergantikan. Ia mengenal sebagian besar pembelinya secara personal, bahkan mengetahui kebutuhan masing-masing.

“Kalau sudah langganan lama, kita tahu kebutuhannya. Itu yang bikin hubungan jadi panjang,” katanya.

Berjualan sebagai Bagian dari Ibadah

Bagi Haji Kasdiman, aktivitas berjualan ayam potong bukan semata soal mencari keuntungan ekonomi. Ia memandang pekerjaannya sebagai bagian dari ibadah dan jalan untuk membantu sesama, terutama pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari usaha kuliner.

“Saya senang bisa bantu banyak orang. Kalau mereka lancar jualan, saya juga ikut senang,” ujarnya dengan mata berbinar.

Prinsip tersebut yang membuatnya tetap bertahan, meski harus bekerja sejak tengah malam hingga pagi hari. Baginya, kerja keras yang dibarengi niat baik akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Menutup perbincangan, Haji Kasdiman menegaskan bahwa kunci bertahan di tengah kerasnya persaingan pasar adalah percaya diri, melayani dengan hati, serta tidak lupa bersyukur.

“Rezeki itu sudah diatur. Yang penting kerja keras, jujur, dan jaga kepercayaan pelanggan,” katanya sambil kembali melayani pembeli berikutnya di tengah riuh Pasar Kartasura yang tak pernah benar-benar tidur.(**)

[otw_is sidebar=otw-sidebar-6]
author

Author: 

Leave a Reply