Saturday 13th July 2024
[otw_is sidebar=otw-sidebar-1]
[otw_is sidebar=otw-sidebar-4]

RATNO SUSANTO[Direktur Marketing EWRC Indonesia] : Cara agar Tulisan yang Terindeks Google Scholar Disitasi Orang Lain.

[otw_is sidebar=otw-sidebar-5]
[otw_is sidebar=otw-sidebar-7]

Para akademisi, khususnya Dosen, harus memiliki akun Google Scholar sebagai salah satu tuntutan pekerjaan. Google Scholar sendiri merupakan alat peng-indeks karya-karya yang dipublikasikan, termasuk berapa kali karya tersebut dikutip atau disitasi. Ada banyak dampak positif dari tulisan yang terindeks di Google Scholar bagi dosen, seperti menambah score di SINTA, dan sebagai portofolio untuk mengajukan bantuan penelitian. Selain itu, juga dapat menjadi nilai tambah pada penilaian, akreditasi, dan ranking bagi lembaga tempat dosen bekerja. 

 

Jadi, apakah anda sudah punya tulisan yang terindeks di Google Scholar?
Dalam artikel kali ini, kita anggap saja para pembaca sudah punya beberapa tulisan yang telah terindeks oleh Google Scholar. Namun, masalah selanjutnya adalah tidak ada atau sangat sedikit orang yang mengutip tulisan anda. Hal ini wajar-wajar saja, karena ada banyak sekali alasan yang bisa menjadi penyebabnya, seperti tulisan yang biasa saja, penerbit yang tidak dikenal, peringkat jurnal, indeks jurnal, dan lain-lainnya.

 

Nah, pada artikel kali ini, kita akan membahas bagaimana cara-cara agar tulisan kita dapat dikutip atau disitasi oleh orang lain.

 

1. Buat Judul yang Menarik dengan Topik yang Masih Hangat

Cara yang satu ini mungkin terkesan biasa saja, atau mungkin sudah menjadi tips yang “basi”. Tapi jangan salah, anda harus ingat bahwa judul adalah yang pertama kali dibaca. Jadi pastikan orang akan tertarik membaca tulisan anda setelah membaca judulnya.

Sebelum membuat judul, tentu topik tulisan juga harus menarik. Jangan membuat tulisan tentang hal-hal yang sudah “basi” atau tidak menarik lagi. Carilah topik-topik baru yang sedang trending saat ini, dan mungkin masih akan hangat selama 1 atau 2 tahun setelah tulisan diterbitkan. Anda juga bisa mencari topik yang mungkin akan eksis dalam 10 tahun kedepan sehingga besar kemungkinan tulisan anda akan dikutip ole orang lain. Perlu diingat, dalam penulisan ilmiah, referensi yang disarankan adalah maksimal berumur sepuluh tahun, jadi pilihlah topik yang tepat yang dapat bertahan dalam sepuluh tahun.

2. Pilih Penerbit yang Bereputasi/Populer

Penerbit merupakan poin penting selanjutnya. Pastikan anda memilih penerbit yang bereputasi sesuai dengan level yang anda inginkan. Reputasi dan popularitas dari penerbit tentu akan menjadi gerbang utama karena penerbit tersebut akan banyak dikunjungi orang sehingga tulisan anda berpotensi untuk dibaca dan disitasi orang lain.

Minimal, pilihlah penerbit yang sudah memiliki standar minimum. Contohnya pada jurnal nasional, harus sudah memiliki ISSN, memiliki terbitan rutin, memiliki editor dan reviewer berkualitas, sudah terindeks SINTA, dan indikator-indikator lainnya.

 3. Pahami Mengapa Orang Harus Mengutip Tulisan Anda

Tulisan yang dikutip belum tentu merupakan tulisan yang bagus. Jika anda perhatikan, kebanyakan orang mengutip hanya agar terlihat keren karena memiliki banyak referensi. Banyak mahasiswa, atau bahkan Dosen, yang sebenarnya bukan benar-benar ingin mengutip, sehingga terkadang rujukannya menjadi kurang jelas.

Nah, anda harus memahami pola dan kebiasaan tersebut. Pastikan siapa yang akan membaca tulisan anda dan siapa yang berpotensi untuk mengutipnya.

4. Sebarkan dan Promosikan Tulisan Anda

Cara yang satu ini merupakan cara tradisional yang cukup berhasil. Sebarkanlah tulisan anda sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.

Jika tulisan anda berupa buku, maka titipkanlah di berbagai toko buku, baik offline maupun online. Anda juga dapat menawarkannya ke perpustakaan yang ada diseluruh Indonesia, boleh dijual atau disumbangkan. Atau, jika memang anda tidak mencari keuntungan, anda bisa saja mengunggahnya sehingga buku anda dapat diunduh secara gratis oleh banyak orang.

Jika tulisan berupa artikel jurnal, maka anda bisa membagikan link atau bahkan file pdf nya ke rekan-rekan anda melalui media sosial atau grup WhatsApp.

Ingat, prinsipnya adalah semakin mudah sebuah referensi diakses, maka semakin besar peluang referensi tersebut akan dikutip atau disitasi.

5. Minta Rekan Anda untuk Mengutip Tulisan Anda

Nah, kalau cara yang satu ini mungkin sedikit memaksa. Tapi selama tulisan anda menjadi rujukan yang tepat, mengapa tidak?

Bahkan ada banyak dosen diluar sana yang menyuruh mahasiswa untuk mengutip tulisannya. Alhasil, tulisan sang dosen dikutip oleh banyak orang sekaligus. Hal ini tentu bukan menjadi masalah, asalkan tidak dipaksakan untuk mengutip atau mensitasi topik yang tidak sesuai. Jangan sampai tulisan anda, misalnya bertopik sains, dikutip oleh penulis yang bertopik entertainmen. Mungkin terlihat tidak nyambung, walaupun tetap sah jika masih memiliki hubungan, bukan?

Cara agar terindeks di Google Scholar dan disitasi oleh orang lain sebenarnya masih ada banyak lagi. Tapi beberapa cara diatas merupakan cara yang paling umum dilakukan. Ingat, setelah melakukan cara-cara tersebut, belum tentu orang akan mengutip tulisan anda. Apalagi kalau tidak dilakukan, kemungkinan besar tidak akan ada yang mengutip. Jadi pastikan anda melakukan salah satu atau semua cara tersebut untuk meningkatkan peluang tulisan anda disitasi oleh orang lain.

[otw_is sidebar=otw-sidebar-6]
author

Author: 

Leave a Reply

Must read×